Showing posts with label Alam. Show all posts
Showing posts with label Alam. Show all posts

Sunday, November 18, 2012

Delapan Ular Bertanduk Menetas di National Zoo

Untuk pertama kali dalam satu dasawarsa lebih, beberapa telur ular bertanduk menetas di National Zoo Smithsonian.

Delapan bayi ular, yang memiliki semacam tanduk peraba di hidung mereka, menetas pada 21 Oktober setelah empat tahun usaha pembiakan yang gagal, menurut pengumuman pihak kebun binatang pada Kamis (8 November).

Spesies air unik asal Asia Tenggara itu tidak terancam punah, tapi hanya ada sedikit informasi yang dimiliki tentang mereka. Hewan tersebut, yang memiliki nama ilmiah Erpeton tentaculatus, memiliki ukuran relatif kecil, sekitar 50-90 cm. Mereka adalah satu-satunya ular yang memiliki tanduk peraba di bagian kepala, yang memungkinkan reptil itu merasakan getaran ikan yang berenang di dekat mereka.

Ular bertanduk menghabiskan hidup mereka di air dan menggunakan ekor mereka untuk menstabilkan diri saat menunggu untuk menyerang mangsa. Penelitian terbaru yang dilakukan menitikberatkan pada cara ular itu menggunakan kemampuan berburu mereka untuk menangkap ikan ke dalam mulut.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal “PloS ONE” pada tahun 2010 menunjukkan bahwa predator yang mahir itu telah mengembangkan sebuah mekanisme untuk menangkap mangsa mereka yang ketakutan yang berakhir sejajar dengan kepala mereka, bukan di depan rahang ular yang terbuka. Rupanya, sistem saraf mereka memungkinkan untuk memperkirakan ke arah mana ikan akan berlari saat kaget.

Ular bertanduk itu juga berkembang dalam tingkat kecepatan yang menakjubkan, yang disaksikan secara langsung para staf di kebun binatang Washington, D.C.

“Beberapa jam setelah menetas, perilaku ular itu seperti ular dewasa,” menurut pernyataan Matt Evans, penjaga di Reptile Discovery Center Smithsonian. “Insting mengambil alih dan mereka berburu. Kami tidak tahu banyak tentang spesies ini, tapi kami sudah belajar banyak hanya dengan melihat mereka tumbuh.”

Bayi-bayi ular itu mungkin akan dikirim ke kebun binatang lain ketika mereka sudah dewasa, tutur staf Smithsonian. Sementara itu, empat ular bertanduk dewasa bisa dilihat di bagian Reptile Discovery Center kebun binatang tersebut.

Monday, October 22, 2012

Monster Laut 'Predator X' Mendapat Nama Resmi

Reptil laut raksasa yang menjelajahi lautan sekitar 150 juta tahun lalu resmi tercatat sebagai spesies baru, menurut para peneliti. Hewan yang dinamai Pliosaurus funkei memiliki panjang 12 meter dan tengkorak sepanjang 2 meter dengan gigitan yang empat kali lebih kuat daripada Tyrannosaurus rex.

"Mereka adalah predator utama di lautan," kata salah satu peneliti Patrick Druckenmiller, paleontolog di Museum University of Alaska. "Gigi mahluk ini akan membuat T. rex merinding."

Jika temuan fosilnya digabungkan, maka kerangka raksasa P. funkei yang baru ditemukan menggambarkan lautan era Jurassic kuno yang penuh dengan predator-predator raksasa.

Pada 2006, para ilmuwan menggali dua kerangka besar pliosaur di Svalbard, Norwegia, serangkaian pulau di pertengahan antara Eropa dan Kutub Utara. Mahluk-mahluk raksasa tersebut, salah satunya disebut Predator X, terlihat agak berbeda dari pliosaurus lain yang ditemukan di Inggris dan Prancis dalam satu setengah abad terakhir.

Kini setelah tahunan meneliti secara mendetail dan menganalisis rahang, tulang belakang, serta badan depan, para peneliti menyimpulkan bahwa Predator X adalah sebuah spesies baru. Secara resmi mereka memberi nama Bjonr dan May-Liss Funke, dua sukarelawan yang pertama menemukan fosil-fosil tersebut.

Pliosaurus adalah reptil laut yang hidup antara 160 juta-145 juta tahun lalu pada periode Jurassic. Mereka memiliki leher pendek, tubuh yang besar di bagian atas dan mengecil di kaki, serta empat sirip yang memungkinkan mereka "bergerak seolah terbang dalam air", kata Druckenmiller pada LiveScience.

Spesies baru ini kemungkinan hidup 145 juta tahun lalu dan memakan plesiosaurus, reptil laut lain yang merupakan kerabat mereka, berleher panjang dan berkepala kecil.

Analisis terbaru ini menunjukkan bahwa P. funkei memiliki sirip depan yang lebih panjang secara proporsional daripada pliosaurus lain, begitu juga bentuk tulang belakang, serta jarak gigi pada rahang, kata Druckenmiller.

Pada 2008, para ilmuwan awalnya memperkirakan Predator X bisa mencapai panjang 15 meter. Studi ilmiah terbaru menunjukkan bahwa mahluk ini lebih kecil dari perkiraan tersebut, namun masih tetap lebih besar dari predator apex terbesar yang hidup saat ini, paus pembunuh yang panjangnya 9 meter, ujar Druckenmiller.

Fosil Pliosaurus funkei hanyalah dua dari hampir 40 spesimen yang ditemukan di Svalbard. Pada Norwegian Journal of Geology edisi 12 Oktober, para penulis juga menyebut ada dua ichtyosaurus baru, atau reptil mirip lumba-lumba, plesiosaurus leher terpanjang dari era Jurassic, dan beberapa invertebrata.

Keseluruhan fosil-fosil ini memberi gambaran bahwa laut Arktik kuno penuh dengan predator menakutkan serta fauna invertebrata, kata salah satu penulis penelitian John Hurum dari University of Oslo lewat email.

"Kami tidak hanya menemukan satu spesies baru, tapi kami menemukan sebuah jejaring ekosistem," tambah Druckenmiller.

Wednesday, October 17, 2012

Laba-Laba Purba dan Mangsanya Terperangkap Selama 100 Juta Tahun

Para ilmuwan menemukan ambar (getah atau mineral yang membatu selama jutaan tahun) yang di dalamnya terdapat seekor laba-laba sedang memakan lebah. Fosil berusia 100 juta tahun ini adalah satu-satunya fosil laba-laba yang pernah ditemukan sedang menyerang mangsa yang terjebak dalam jaringnya.



Sayangnya, laba-laba yang hidup di saat dinosaurus menguasai bumi itu terperangkap dalam getah pohon dan tidak pernah menghabiskan santapannya.

Mata lebah yang menjadi mangsanya tersebut sedang menatap untuk melakukan perlawanan, bergerak untuk membunuh.

Bagian dari ambar yang mengabadikan peristiwa tersebut ditemukan di lembah Hukawng, Myanmar pada awal masa Cretaceous antara 97-110 juta tahun lalu. Hampir dipastikan, saat itu dinosaurus berkeliaran di bumi.

Selain menunjukkan bukti pertama dan satu-satunya fosil laba-laba yang menyerang mangsa dalam jaringnya, potongan getah itu juga mengabadikan tubuh laba-laba jantan pada jaring yang sama.

Ini adalah bukti tertua dari perilaku sosial laba-laba, yang hingga kini masih ditemukan pada beberapa spesiesnya, namun cukup jarang terjadi. Kebanyakan laba-laba hidup sendiri, bahkan sering kali menjadi kanibal. Laba-laba jantan tidak akan ragu menyerang spesies yang belum dewasa pada jaring yang sama.

"Laba-laba muda ini akan menyantap lebah parasit kecil, namun tidak akan pernah bisa," kata George Poinar, Jr., profesor kehormatan bidang zoologi di Oregon State University sekaligus ahli ternama bidang serangga yang terperangkap dalam ambar.

Penemuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal “Historical Biology”.

"Ini adalah lebah jantan yang terperangkap di dalam jaring laba-laba," kata George.

"Ini adalah mimpi buruk bagi sang lebah, dan itu tidak akan pernah berakhir. Lebah sedang menatap laba-laba tersebut, ketika getah pohon mengaliri dan menjebak kedua binatang tersebut."

Laba-laba adalah invertebrata kuno yang diyakini sudah hidup pada 200 juta tahun lalu, namun bukti fosil tertua dari jaring laba-laba yang pernah ditemukan hanya sekitar 130 juta tahun. Penyerangan nyata seperti antara laba-laba dan mangsanya yang terperangkap pada jaringnya seperti pada gambar di atas belum pernah terdokumentasikan sebagai fosil, seperti yang dinyatakan para peneliti. 

Getah pohon yang membentuk ambar terkenal karena kemampuannya yang mengalir melalui serangga, tanaman-tanaman kecil dan bentuk kehidupan lainnya, menjaga mereka dalam keadaan yag nyaris sempurna sebelum akhirnya berubah menjadi batu semi-mulia.

Ambar sering menjelaskan fenomena biologi masa lalu yang cukup jauh. Laba-laba tersebut, yang mungkin telah menunggu dengan sabar selama berjam-jam untuk menangkap mangsanya, tersiram getah hanya sepersekian detik sebelum melakukan serangannya.

Jenis lebah semacam ini, kata George, termasuk dalam kelompok yang saat ini dikenal sebagai parasit bagi laba-laba dan telur serangga. Dalam konteks itu, serangan laba-laba tersebut, dengan menggunakan jaringnya, bisa dianggap sebagai respons pertahanan.

Laba-laba dan lebah tersebut termasuk golongan hewan yang telah punah. Setidaknya ada 15 helai serat jaring laba-laba yang berada di kepingan ambar itu.

Tuesday, June 26, 2012

Makna di Balik Cahaya Kunang-Kunang

 Kunang-kunang menyala

Perut kunang-kunang berisi senyawa organik yang disebut luciferin.

Kunang-kunang seringkali disebut sebagai binatang kecil yang menyala. Cahaya yang indah ini menarik banyak anak kecil untuk memburu binatang ini saat senja. Tapi, tahukah Anda mengapa serangga ini mampu menyala?

Jawabannya karena dalam perut kunang-kunang berisi sebuah senyawa organik yang disebut luciferin. Saat udara masuk ke dalam perut, kunang-kunang bereaksi dengan senyawa luciferin. Sebuah reaksi kimia dari senyawa tersebut mengeluarkan cahaya khas kunang-kunang. Cahaya ini seringkali disebut cahaya dingin karena hanya menghasilkan sedikit panas. Kunang-kunang dapat mengatur aliran udara ke dalam perut untuk membuat pola berdenyut.

Beberapa ahli berpikir gaya mencolok cahaya kunang-kunang tersebut menjadi peringatan kepada predator bahwa serangga ini berasa pahit. Sayangnya, sinyal ini tidak berarti bagi beberapa katak yang tetap memakan kunang-kunang meski hewan ini mulai bersinar.

Selain sebagai pelindung dari predator, cahaya kunang-kunang jantan juga berguna untuk memberikan sinyal hasrat kunang-kunang jantan untuk pasangan. Kunang-kunang betina yang bersedia dengan ajakan kunang-kunang jantan akan memberikan kilatan cahaya.

Tidak semua kedipan cahaya kunang-kunang dimotivasi oleh cinta. Meskipun setiap spesies kunang-kunang memiliki pola kedipan sendiri, beberapa kunang betina meniru pola spesies lain. Kunang-kunang jantan mendarat di samping mereka hanya untuk dimakan hidup-hidup.

Kedipan cahaya kunang-kunang bukan hanya penghias keindahan malam. Binatang ini menampilkan sebuah keunikan, tapi kadang-kadang bisa mematikan. Inilah ungkapan cinta kunang-kunang.

Dari temuan ini dapat disimpulkan bahwa kedipan cahaya kunang-kunang merupakan akibat reaksi kimia antara senyawa organik dalam perut dengan udara.

Ketika Kecoak Musnah dari Muka Bumi

Kecoa

Apa yang terjadi ketika di dunia ini tidak ada lagi kecoak?

Bagi beberapa orang, melihat kecoak bisa menimbulkan ketakutan. Keberadaan kecoak juga membuat kekhawatiran sehingga hewan itu sering dibunuh dengan racun serangga. Namun pernahkan kita berpikir, apa yang terjadi ketika di dunia ini tidak ada lagi kecoak?

Profesor fakultas Biologi Universitas Texas, Amerika Serikat, Srini Kambhampati, ditunjuk untuk menjawab pertanyaan ini. Ternyata, kehilangan mendadak 5.000 hingga 10.000 spesies kecoak di bumi memiliki konsekuensi lebih jauh dibanding kehadiran mereka yang mengotori rumah Anda.

Di dunia, serangga ini menjadi sumber makanan bagi burung dan mamalia seperti tikus. Bahkan, manusia juga memakan hewan ini di wilayah tertentu. Tapi, tidak semua hewan dan manusia menyandarkan kebutuhan pangan mereka pada kecoak.

Menurut Kambhampati, hewan lain tidak akan punah ketika terjadi penurunan jumlah populasi kecoak di bumi. Tapi, tawon parasit yang khusus menjadi parasit telur kecoak sangat bergantung dengan keberadaan hewan ini. "Ini (tawon parasit) hampir pasti punah," ujar Kambhampati kepada Life's Little Mysteries.
Jika Anda tidak tergerak terhadap kepunahan tawon parasit atau populasi tikus, Anda bisa mempertimbangkan kondisi ini. Kelangkaan tikus akan mempengaruhi spesies yang memangsa mereka, termasuk kucing liar atau domestik. Anjing hutan, serigala, reptil, elang, dan burung menjadikannya mangsa. Banyak dari hewan-hewan ini menjadi peliharaan manusia.

Kambhampati menyimpulkan kepunahan kecoak akan mengganggu kebutuhan vital makhluk hidup yakni siklus nitrogen. "Sebagian besar kecoak memakan bahan organik yang membusuk. Ini menyimpan kandungan nitrogen," ujarnya.

"Proses makan kecoak memiliki efek yang dapat melepas nitrogen yang akan diserap tanah dan berguna bagi tanaman. Dengan kata lain, kepunahan kecoak akan memiliki dampak besar bagi kesehatan hutan. Tentu secara tidak langsung berperangaruh pada spesies yang tinggal di dalamnya," urai Kambhampati.

Proses pelepasan nitrogen ini terjadi pada kotoran kecoa. Secara singkat, kita membutuhkan tinja kecoak demi keberlangsungan kehidupan.

Inilah Penyebab Pisang Terancam Punah

 Pisang

Penyakit menular ini sulit ditangani dengan pengobatan kimia dan biologi.

Kedutaan Besar Australia dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia menyelenggarakan ceramah oleh pakar bioteknologi, Profesor James Dale pada Selasa, 19 Juni 2012 berjudul. Seminar ini berjudul "Banana for the 21st Centuries: Pushing Back the Threat of Extinction" (Pisang untuk abad ke-21: Mendesak Mundur Ancaman Kepunahan).

Keberadaan pisang termasuk penting untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pisang termasuk dalam sepuluh besar tanaman pangan dunia. Bahkan, pisang menjadi makanan pokok utama di beberapa daerah  tropis basah dan sub-tropis. Pisang berperan sebagai bagian dari pola makan budaya lokal.

Pisang merupakan tanaman asli bagi Indonesia. Tanaman ini juga bagian penting dari wilayah di Asia Tenggara, Papua Nugini dan Australia bagian utara.

Peran penting pisang bagi kehidupan mendapat ancaman. Kasus kepunahan pisang berbeda dengan kasus kepunahan lain yang biasa disebabkan kehilangan habitat atau lingkungan. Pisang di Indonesia menghadapi ancaman yang sama dengan negara lain yakni serangan penyakit.

Kepunahan pisang disebabkan oleh penyakit berbahaya sebagai berikut:

- Black Sigatoka: penyakit titik hitam pada daun pisang yang disebabkan jamur Mycosphaerella fijiensis (Morelet).

- Layu Fusarium (Tropical Race 4): penyakit layu vaskular yang disebabkan jamur Fusarium oxysporum (F. oxysporum). Inilah varian lain dari penyakit Panama yang mengancam pisang Asia. Penyakit ini menyerang perkebunan pisang Cavendish di Indonesia, termasuk Papua.

- Penyakit darah: penyakit ini kali pertama dilaporkan di Selawesi Selatan pada 1906. Penyakit ini menyebar ke Jawa Barat pada 1987. Sejak itu, penyakit yang mirip jenis baru penyakit Moko yang disebar oleh serangga. Penyakit ini membuat pohon pisang menghitam dan buahnya cokelat kemerahan.

- Puncak menonjol pisang: penyakit ini disebabkan virus Banana Bunchy Top (BBTV). Penularan penyakit ini disebabkan oleh vektor kutu, Pentalonia nigronervosa. Penyakit ini dianggap paling merusak ekonomi perkebunan pisang dunia. Pisang menjadi tanaman buah terbesar nomer empat di dunia, setelah anggur, jeruk, dan apel.

- Layu Xanthomonas: penyakit yang disebabkan bakteri Xanthomonas campestris pathovar musacearum. Penyakit ini sangat mudah menular dan membunuh tanaman serta membusukkan buah. Daun pisang akan berangsur menguning. Gejala pertama tampak pada busuk yang mengering. Buah akan matang tidak merata dan sebelum waktunya (prematur). Dalam waktu singkat, tanaman akan berubah cokelat dan mati.

Dampak berbahaya penyakit Tropical Race 4 (TR4) telah merusak pisang di Filipina dan Malaysia. Virus yang merusak puncak menonjol pisang telah menyerang di Malawi.

Ancaman penyakit ini berusaha untuk ditangani. Tapi, obat tidak mempan untuk beberapa penyakit tertentu. Kontrol dengan zat kimia tidak bisa menyembuhkan layu Fusarium, penyakit darah, dan puncak menonjol. Obat biologis tidak dapat menahan serangan Sigatoka hitam, penyakit darah, dan pucuk menonjol.

Ada lagi dua langkah yang telah dicoba untuk mencegah kepunahan pisang. Pengembangbiakan konvensional dilakukan untuk peningkatan ketahanan dan kualitas buah. Tapi, sangat sulit diterapkan. Langkah ini untuk mencari pengganti jenis pisang paling populer, Cavendish atau Ambon putih. Ini untuk mengatasi kekurangan keragaman hayati dari pisang.

Modifikasi genetika menjadi langkah yang  dilakukan saat ini untuk penyelamatan pisang dari kepunahan. Inilah upaya yang dilakukan oleh tim peneliti Profesor Dale.    

"Dengan bangga saya menyambut Profesor Dale ke Indonesia, yang karyanya menunjukkan keunggulan sains yang kita miliki di Australia," kata Kuasa Usaha Australia, Dr David Engel.

"Saya berharap penelitiannya akan menginspirasi para sarjana, ilmuwan pertanian, dan teknologi makanan dari Indonesia, dan memperkuat kerjasama penelitian mereka dengan Australia," imbuhnya pada pernyataan tertulis dari Kedutaan Besar Australia.

Profesor James Dale menjabat sebagai Direktur Pusat Tanaman Tropis dan Biokomoditas di Queensland University of Technology. Programnya menggabungkan Bioteknologi Tanaman Tropis, Pusat Syngenta untuk Pengembangan Bahan Bakar Hayati Tebu dan Penelitian dan Inovasi Gula (SRI). 

Pada tahun 2004, Profesor Dale memperoleh medali penghargaan Order of Australia (AO) dari Pemerintah Australia untuk jasa-jasanya kepada bioteknologi pertanian.  Pada 2008, Profesor Dale ditunjuk sebagai Distinguished Professor kedua untuk Queensland University of Technology.

Burung Bisa Bedakan Manusia Asing atau Karib

Merpati

Kemampuan mengidentifikasi teman atau musuh jadi kunci bertahan hidup.

Penelitian baru mengungkap beberapa burung ada kemungkinan bisa tahu siapa manusia yang bisa mereka jadikan teman. Sebab, burung-burung ini mampu mengenali wajah orang-orang dan membedakan antara suara manusia.

Kemampuan mengidentifikasi teman atau musuh potensial menjadi kunci kemampuan burung untuk bertahan hidup.

Ahli perilaku binatang dari Universitas Lincoln di Inggris dan Universitas Wina melakukan riset pada burung Merpati dan Gagak dalam dua studi terpisah.

Penelitian yang dipublikasi Avian Biology Research menunjukkan bahwa burung Merpati dipercaya bisa membedakan antara manusia akrab dan asing. Mereka menggunakan fitur wajah untuk mengetahui ini.

Tim ini melatih sekelompok Merpati mengenali perbedaan antara memotret obyek yang familiar dan obyek asing. Merpati, bersama dengan kelompok pengendali, kemudian menunjukkan foto-foto dari pasangan wajah manusia.

Satu wajah adalah dari seseorang yang akrab dengan burung. Sementara yang lainnya adalah seseorang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Burung-burung kelompok eksperimen mampu mengenali dan mengklasifikasi orang-orang akrab dengan hanya menggunakan wajah mereka. Sedangkan burung tanpa pelatihan gagal mengenali sebuah objek.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Merpati dapat membedakan antara orang asing yang akrab dan dapat melakukan hal tersebut hanya menggunakan karakteristik wajah.

"Seperti kemajuan kognitif jarang diamati pada Merpati dan menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengenali manusia individual, tetapi juga tahu siapa yang mereka tahu. Ini sesuatu yang bisa sangat penting untuk kelangsungan hidup," kata peneliti utama dari Universitas Lincoln, Dr Anna Wilkinson, dari School of Life Sciences, seperti dilansir dari laman
Science Daily.

"Beberapa manusia memberi makanan Merpati, sementara yang lain mengejar mereka. Untuk mengetahui individu-individu dan bertindak dengan tepat bagi mereka adalah sangat menguntungkan," ucap Anna.

Dalam studi terpisah yang diterbitkan dalam jurnal "Animal Cognition", tim menyelidiki kemampuan Gagak Bangkai membedakan antara suara dan panggilan manusia yang akrab dan asing, dan 'individu heterospecifik'. yang berada di luar spesies mereka sendiri.

Penelitian sebelumnya telah difokuskan pada kemampuan Gagak untuk mengenali dan berkomunikasi dengan spesies mereka sendiri. Burung-burung Gagak menanggapi secara signifikan lebih sering untuk orang asing daripada suara dari manusia yang akrab dengan mereka dan, sebaliknya, menanggapi lebih pada orang yang familiar daripada panggilan Gagak asing. Menurut tim peneliti, hasil memberikan bukti pertama bahwa burung dapat membedakan antara individu heterospecifik yang akrab dan terbiasa menggunakan rangsangan pendengaran.

Ayam Jantan Berkokok untuk Tandai Kekuasaan

 Ayam Jantan

Jika sinyal ini dilanggar, pertanda akan ada perkelahian.

Apa yang membuat ayam  berkokok, terutama di pagi hari? Para ilmuwan menemukan jawabannya, bahwa hal itu ada hubungannya dengan jam alarm alamiah yang dimiliki ayam jantan.

Mengutip earthsky.org, ayam jantan berkokok karena dia memiliki jam internal yang membantunya mendahului terbitnya matahari. Seperti halnya burung, ayam jantan bernyanyi atau berkokok dalam siklus harian.
Hampir semua hewan memiliki siklus harian dari kegiatan yang dikenal sebagai ritme sirkadian. Ini adalah ritme biologis pada hewan, yang mengikuti siklus siang dan malam.

Ayam jantan mendahului matahari terbit untuk mengawali berburu makanan sehari-hari dan juga untuk pertahanan wilayah. Namun, jika satu ayam jantan tetangga memiliki jam internal yang telah diatur sedikit lebih awal, ini dapat merangsang ayam jantan lain untuk berkokok lebih awal juga.
Nyanyian ayam jantan saat matahari terbit sebenarnya adalah suatu cara untuk "membangun kekuasaan" wilayahnya. Ketika ayam berkokok, dia mengirimkan sinyal ke ayam jantan lainnya bahwa jika melanggar, berarti mereka minta berkelahi.

Selain pejantan, ayam betina ternyata juga ada yang diketahui berkokok. Ketika muncul burung elang, ayam betina akan menjerit keras untuk menggiring anak-anaknya bersembunyi. Tetapi, jika ayam betina melihat seorang manusia yang tidak mengancam, ayam betina mungkin hanya berkotek.

Makhluk Terlangka di Muka Bumi Mati

 Kura-kura Galapagos, Lonesome George

Lonesome George dikenal sebagai makhluk paling langka di muka bumi.

Satu lagi subspesies di muka bumi ini musnah. Kali ini giliran kura-kura raksasa di Taman Nasional Galapagos, Ekuador.

Lonesome George. Begitu subspesies Chelonoidis nigra abingdoni ini diberi nama. Para ilmuan memperkirakan kura-kura jantan asal Pulau Pinta ini berusia 100 tahun. Meski diperkirakan berumur 100 tahun, para ilmuan menyebut Lonesome George masih tergolong muda. Sebab, kura-kura jenis ini bisa hidup di lebih dari 200 tahun.

Menurut petugas taman nasional, reptil ini ditemukan mati di kandangnya oleh pawang yang merawatnya selama 40 tahun, Fausto Llerena. Pembedahan bangkai segera dilakukan untuk mengungkap penyebab kematiannya. Tubuh George kemungkinan akan dibalsem untuk diawetkan. Supaya generasi mendatang tetap mengenal subspesies ini.

Laman BBC menyebut tidak ada keturunan yang ditinggalkan. Tidak ada pula makhluk serupa yang diketahui masih hidup. Sehingga, Lonesome George dikenal sebagai makhluk paling langka di muka bumi ini.

Lonesome George menjadi bagian dari program penangkaran Taman Nasional Galapagos. Namun, selama puluhan tahun, para ahli gagal memperoleh keturunan subspesies ini.

Lonesome George pernah dipasangkan dengan kura-kura betina sejenis dari Kepulauan Galapagos. Namun gagal memperoleh keturunan.

Lonesome George juga pernah menjalani kehidupannya bersama dengan kura-kura betina dari gunung Wolf selama 15 tahun. Dia cocok dengan pasangannya ini. Namun sayang, telur yang dihasilkan tidak subur.

Upaya memperoleh keturunan tidak berhenti sampai di situ. Lonesome George juga pernah hidup satu kandang bersama sejumlah kura-kura betina dari Pulau Espanola. Jenis kura-kura ini lebih dekat jenisnya ketimbang yang berasal dari Gunung Wolf. Namun, upaya ini tetap tidak berhasil. Mereka gagal kawin.

Lonesome George pertama kali terlihat oleh ilmuwan Hungaria di Pulau Galapagos pada tahun 1972. Para ahli lingkungan yakin subspesies ini telah punah.

Selama ini, Lonesome George menjadi maskot Kepulauan Galapagos. Dalam setahun ada sekitar 180.000 wisatawan berkunjung di tempat ini. Pejabat Taman Nasional Galapagos mengatakan, dengan kematian George, subspesies kura-kura Pinta ini telah punah.

Sejatinya, kura-kura di Pulau-pulau Galapagos sangat berlimpah sampai akhir abad ke-19. Namun, ulah manusia menghabisi mereka. Kura-kura ini diburu untuk dimakan dagingnya oleh para pelaut dan nelayan. Kepunahan tidak bisa dielakkan.

Penampilan kura-kura Kepulauan Galapagos memang dikenal berbeda dari jenis lain yang berada di daratan. Perbedaan fitur itu yang membantu naturalis Inggris, Charles Darwin merumuskan teori evolusi. Saat ini, sekitar 20.000 kura-kura raksasa dari subspesies lain masih hidup di Galapagos. Entah sampai kapan mereka mampu bertahan.

Click This Widget